2-11

Kemarin (1/9) saya ikut dalam kompetisi futsal, bergabung dengan tim "Aspal" setelah diyakinkan oleh JM (aka Johanes Amando) karena ia mengetahui posisi yang biasa saya mainkan adalah sebagai penjaga gawang. Kompetisi "pelit" ini dimainkan di dalam lapangan berumput sintetis yang mengagumkan - dengan tata cahaya seadanya dan ukuran bukan standar berlokasi di pusat perbelanjaan yang harus mengadakan kompetisi seperti ini agar tempatnya sedikit lebih banyak didatangi pengunjung - menawarkan hadiah ’sebesar’ tigasetengahjuta rupiah per tim-nya dengan biaya pendaftaran duaratusriburupiah yang membuat sakit kantong. Lebih mengagumkan lagi karena pertandingan dipimpin oleh wasit yang sangat berpengalaman, terutama dalam membuat keputusan cepat & akurat yang terlambat.

Futsal_001_1

Diawali beberapa minggu lalu ketika JM menawari saya ikut serta dalam kompetisi lain dan saya - yang telah berusaha meyakinkannya bahwa saya hanya akan memberi 2 pilihan: membuat gawangnya lebih banyak kejebolan atau mendapat lebih sedikit kesempatan menang - akhirnya menyetujuinya. Kompetisi itu telah menutup kesempatan pendaftarannya ketika JM dan teman se-tim-nya tiba di sana beberapa jam setelahnya.

Kemarin saya hanya berlatih beberapa jam saja di lapangan basket kompleks Villa Permata, Karawaci, beserta JM dan dua orang anggota tim lainnya. Sedikit lucu memang, karena persiapan ‘Sistim Kebut Sesaat’ ini juga sering dilakukan oleh tim-tim olahraga kita, terutama tim nasional sepakbola tentu. JM bertindak sebagai pelatih kepala saat latihan ini karena ia juga masuk dalam klub futsal profesional. Berangkat dengan berkuda yang dikusiri oleh Ydz-Q (aka Gurisa Yudhistira), kami tiba di sana dalam kondisi segar.

Hal yang membuat saya paling lelah adalah mengambil bola di belakang gawang yang sedikit menanjak berulang kali - karena saya tidak telaten menangkap dan/atau menghalaunya. Tapi itu bagus, menurut saya, karena melatih otot kaki agar nanti dapat bekerja maksimal - dan sekalian pemanasan. Saat pulang kami berjalan kaki dan sampai di Sari Bumi - rumah JM dan dua orang lainnya tersebut - dengan (sangat) kelelahan. JM masih ditambah pusing dengan belum adanya kostum - yang akhirnya ia dapatkan dari ayahnya - sedangkan saya, sejak latihan, terus saja mengajak bercanda. Tidak selalu bisa membuat tertawa, memang.

Kompetisi diadakan di Mal d’Best Cikokol, Tangerang. Kami ke sana mengendarai motor dan harus mengelilingi 3/4 bangunan hanya untuk mencapai tempat parkir. Tiba di sana, saya langsung menangkap - lewat kuping saya - suara yang sudah sangat saya kenal dan saya cari-cari selama ini; mesin Dance Dance Revolution (DDR) 3rd Mix yang beredar sejak saya duduk di bangku sekolah menengah pertama - alasan yang cukup masuk akal yang menjadikan mesin ini begitu sulit ditemukan di Tangerang, apalagi Jakarta. Mesin ini cukup memotivasi saya yang langsung bertekad untuk memainkannya selesai bertanding.

Yeah, langsung saja, pertandingan dimulai. Saya sungguh tak tahu aturan, mengambil bola di luar daerah yang diizinkan. Gol pertama tercipta - tentu masuk ke gawang saya - setelah pertandingan berjalan kurang lebih dua menit, dan setelah itu semuanya terlihat lebih mudah - bagi tim lawan - untuk kembali memasukkan bola; lagi, dan lagi.. Babak pertama (15 menit) berakhir dengan kedudukan 0-6!

Jujur saja, seharusnya saya main tanpa beban. Namun ketidakbecusan saya menjadi kiper di dalam tim yang sangat menginginkan kemenangan-lah yang membuat saya merasa tidak enak hati. Saya bermain maju terlalu ke depan dan (kadang) melakukan penyelamatan (gemilang) dengan mem-blok gocekan lawan yang sudah berhadapan satu lawan satu dengan saya, namun kesalahan-kesalahan elementer membuat saya memungut bola sangat sering.

Di babak kedua permainan membaik ketika pemain pengganti - yang baru saja pulang sekolah - datang. Namun tidak untuk saya. Skor akhir adalah 2-11 namun itu tidak cukup untuk membuat saya tidak ber-’style’ mengikuti irama lagu R&B yang dipasang panitia sebagai suara latar.Itu saya lakukan sebagai pengganti teriakan, "Hey.., I’m OK! Jebol saja gawang saya dan saya akan (tetap) baik-baik saja!" dan tentu saja juga untuk tetap menjaga mental saya yang langsung turun sejak beberapa saat pertandingan belum dimulai.

Lupakan kekalah telak karena saya harus segera turun 2 lantai ke bawah untuk menjumpai teman lama saya. Amazone-lah yang telah berbaik hati menemukan kami. Dengan 1,250 per-koin-nya, 10,000 langsung saya belanjakan dan saya segera memainkan lagu-lagu favorit saya: Butterfly, Afronova, Boom-boom Dollar, Paranoia 190, Turn Me On, dan beberapa lainnya dengan berbagai gaya yang telah lama tidak bisa saya lakukan lagi. Cukup menarik perhatian pengunjung lainnya namun hanya sedikit - berbanding lurus dengan total pengunjung mal ini. Lalu ada anak kecil yang mengajak saya ‘battle’ dan sifat buruk saya pun keluar: meremehkan lawan. Dia memang tidak lebih baik dari saya namun hampir menyamai - dan untuk seusianya ia kelak pasti akan lebih hebat dari saya. Dia hanya ‘kalah telak’ ketika saya paksa dia (dan saya berbaik hati memasukkan 2 koin untuknya) memainkan mode Step Step Revolution (SSR) yang menyediakan mode teramat sulit, ribed, njlimet dan mumet - namun sangat menyenangkan, dan melelahkan juga - tentu.

Hari ini saya mendampingi adik-adik English Club SMAN 5 saya bertanding di BBC, walau bangun dengan paha sakit hingga saya menuliskan blog ini. Dan nampaknya harus saya akhiri karena saya belum ‘apel siang’ sedangkan waktunya sudah habis.. Semoga Ia mau memaafkan saya dan menerima apel saya..

NB.
Saya jadi mengetahui bagaimana taktik yang sudah rapi dirancang bisa tiba-tiba saja berantakan dan main sekenanya ketika kita dalam tekanan lawan terus menerus sedangkan tuntutan membuat gol sama menekannya, hal yang sama yang terjadi pada timnas sepakbola senior kita di ajang Piala Asia AFC 2007 ketika menghadapi Korea Selatan.
Inakorsel

Leave a Reply