lagi-lagi soal sepakbola..
iya, baru akhir2 ini saya mematikan TV di tengah pertandingan timnas.. padahal biasanya pertandingan2 timnas-lah yang paling saya tunggu.. sekedar catatan, saya hanya menyaksikan Liga Indonesia Djarum* dan Copa Indonesia Dji Sam Soe**.. saya tidak mengerti EPL, MLS, Liga Italia, Spanyol, Belanda.. dan dari dulu juga saya ‘mempromosikan’ sepak bola lokal ke teman2, saudara, siapa saja.. tapi lama2 kok yah, malu sendiri gitu! termasuk di Piala Asia, penampilan timnas sebenarnya tak ada perubahan! jika 9 dari 11 orang bilang bahwa penampilan mereka di AFC AC 2007 kemarin membanggakan - sebut saja begitu, saya-lah yang termasuk ke dalam kelompok yang mengatakan, TIDAK! saya juga tidak tahu mengapa mereka bisa menang lawan Bahrain? ya sih, waktu menonton secara langsung hal tersebut (permainan yang ‘payah’-pen.) tidak terlihat.. tapi waktu melihat siaran ulangnya.., duh!
timnas kita - lagi-lagi - masih, ampun deh, memainkan bola-bola atas yang sama sekali tidak efektif.. jika saya analisa sedikit, hal ini disebabkan oleh faktor mental yang sejak kecil terbentuk. coba kita ingat-ingat dulu ketika main bola di sekolah bersama teman2, atau di lingkungan rumah, sering ‘kan kita diminta - atau bahkan meminta - teman kita untuk membuang bola ketika tim kita ditekan? apalagi jika terjadi kemelut di depan gawang.. malah, jika kita memainkan bola (dalam artian mengutak-atik untuk menggiringnya keluar dari kemelut, misalnya), kita akan diteriaki karena hal itu - menurut mereka - sangat berbahaya. duh!
kedua, jika sudah tertinggal, kita juga terbentuk sejak kecil presepsi, "Lanjutkan permainan, yang penting tidak kebobolan lebih banyak".. jadilah, kita bermain asal, membuang-buang bola: keluar, ke tengah, ke depan, bahkan ke belakang gawang. lalu, ketika ada kesempatan menyerang dan menembak, kita akan memberikannya ke teman kita - tanpa peduli posisi atau peluangnya - untuk menembak, agar jika tidak terjadi gol, kita tidak ‘disalahkan’..
maaf jika apa yang saya analogikan di atas tidak terjadi pada teman2 yang lain.. saya hanya mencoba menganalisa penyebab ini semua, dan yang saya temukan begitulah adanya.. mental ini sudah terlanjur begitu, dan mengubahnya - sungguh - bukan perkara mudah. sepak bola melibatkan banyak orang, dan jika mengubah satu kepala saja sudah sulit, tentu saja tak heran jika program dari pelatih manapun akan mandeg begitu saja..
terakhir, infrastruktur olahraga kita sangat payah.. kita terlahir memang hanya ’semangat membuat’ (stadion bagus, besar, megah, walau hal itu pun juga jarang) namun tanpa mau merawat. lapangan pun jelek, stadion apalagi. kalah, dirusak.. rusuh..
tambahan, tolonglah ubah budaya kita.. saya ‘begah’ dengan serbuan asap rokok ketika menonton di stadion. ini juga masalah ‘didikan sejak kecil’, di mana asap rokok seolah-olah sudah merupakan sesuatu yang ‘biasa’ (baca: bagian dari udara bebas). kacaulah! mana bisa kita nyaman menonton di stadion? kalau sudah begitu, dari mana panpel mendapat pemasukan? itu baru dari segi ekonomi, dari segi kesehatan? belum lagi masyarakat kita juga (sangat-sangat) terbiasa membuang sampah begitu saja. duh, masalahnya jadi begitu kompleks jika dituangkan semua di sini. namun, cobalah kita berpikr sejenak bahwa, dari hal2 sekecil dan sesepele ini, hal2 besar bisa terjadi..
semoga, dengan mental yang membaik, prestasi apapun di negeri ini juga ikut membaik.. setuju dengan saya?
Ket.:
*) Karena yang berubah itu sponsor utamanya - dan bukan liganya - bukankah lebih baik ditulis ‘Liga Indonesia (Sponsor)’? jadi, bukan ‘Liga Dunhill’ namun ‘Liga Indonesia Dunhill’; ‘Liga Djarum Indonesia (LDI)’ melainkan ‘Liga Indonesia Djarum (LID)’. penamaan liga sudah benar ketika bank mandiri menjadi sponsor, ‘Liga Indonesia Bank Mandiri (LIBM)’.
**) Sama seperti poin di atas. Namun nampaknya hal ini sudah diperbaiki oleh pihak Dji Sam Soe musim ini di mana mereka memberi nama dari ‘Copa Dji Sam Soe Indonesia’ menjadi ‘Copa Indonesia’ saja musim ini.
Catatan:
artikel ini saya ambil dari postingan saya di situs pssi-football.com

May 8th, 2008 at 7:13 pm
BLoW [Leave a Reply